Monday, September 17, 2018

Hati-hati Dengan 7 Kesalahan Ini dalam Menyiapkan Susu Bubuk Formula

Hati-hati Dengan 7 Kesalahan Ini dalam Menyiapkan Susu Bubuk Formula
Hati-hati Dengan 7 Kesalahan Ini dalam Menyiapkan Susu Bubuk Formula
Memberikan air susu ibu (ASI) merupakan pilihan terbaik bagi bayi. Namun, beberapa kondisi tertentu membuat hal itu tidak memungkinkan, sehingga bayi harus diberikan susu bubuk formula.


Selain susu bubuk formula, sebenarnya ada jenis lain yaitu susu formula cair siap minum dan susu formula cair terkonsentrasi. Hanya saja, sebagian besar orang tua memilih susu bubuk formula karena harganya yang lebih terjangkau.



Dari segi persiapan, susu bubuk formula memang membutuhkan lebih banyak perhatian dibanding dua jenis lainnya. Untuk susu formula siap minum, orang tua hanya perlu membuka kemasan dan memasukkannya dalam botol. Sementara itu, susu formula cair terkonsentrasi perlu menambahkan air sesuai takaran yang disebutkan.



Agar manfaat susu bubuk formula optimal, perlu dilakukan langkah tepat. Berikut beberapa kesalahan yang seringkali dilakukan saat menyiapkan susu bubuk formula dan cara mencegahnya :


  • Menggunakan air yang terlalu panas.

Untuk membuat susu larut, banyak orang tua yang menganggap air baru mendidih sebagai solusi yang terbaik. Padahal, sebaiknya suhu air untuk melarutkan susu bubuk formula yaitu temperatur sekitar 70 derajat Celcius. Untuk cara mudahnya yaitu mendiamkan air sekitar 30 menit setelah mendidih. Alasannya, air panas diperlukan agar membunuh bakteri yang mungkin ada dari susu bubuk formula, namun tidak sampai terlalu panas untuk mulut Si Kecil.

  • Menaruh susu bubuk sebelum air.

Agar dapat memperoleh takaran yang sesuai, masukkan air terlebih dahulu ke dalam botol. Cek lagi apakah jumlah air yang dibutuhkan sudah sesuai. Gunakan sendok takaran yang biasanya disediakan dalam kemasan susu formula.

  • Memasukkan susu bubuk lebih atau kurang dari takaran.

Isi sendok takaran secukupnya, jangan terlalu sedikit atau terlalu banyak Hindari pula menambahkan susu bubuk formula terlalu banyak, karena dapat membuat bayi mengalami dehidrasi dan bayi susah buang air besar. Sebaliknya, jika susu bubuk formula terlalu sedikit maka akan membuat bayi kekurangan nutrisi. Hindari juga menambahkan gula atau sereal dalam susu formula.

  • Menyentuh ujung dot saat menyiapkan susu.

Setelah susu bubuk formula sudah dimasukkan ke dalam botol, tidak jarang orang tua memilih memegang ujung dot. Dianjurkan memegang di pinggiran dot. Kemudian untuk memastikan susu larut, kocoklah dengan hati-hati setelah terlebih dahulu menggunakan penutup dot.

  • Memberikan susu dengan suhu yang terlalu panas.

Sebelum memberikan susu bubuk formula pada bayi, sebaiknya teteskan di pergelangan tangan. Pastikan suhunya cukup hangat atau tidak terlalu panas. Disarankan untuk menggunakan air yang baru saja dipanaskan. Hindari menggunakan air yang dipanaskan ulang. Jika perlu mendinginkan, siram botol dengan air mengalir dari kran. Namun, pastikan botol tertutup dan tidak kemasukan air.

  • Memberikan sisa susu formula

Segera buang sisa susu formula yang telah didiamkan lebih dari satu jam. Bahkan, sisa susu formula yang dimasukkan ke dalam lemari pendingin pun dapat mengundang bakteri. Meski sekilas hal itu sangat disayangkan, namun penting memerhatikan hal ini untuk menjaga kesehatan bayi.

  • Menghangatkan susu dalam microwave

Kadang orang tua ingin tindakan praktis dalam menghangat susu dengan microwave. Namun hindari tindakan tersebut, karena dapat memanaskan susu secara tidak rata dan berisiko menyebabkan lidah dan mulut bayi terbakar.


Yang tidak kalah penting saat menyiapkan susu bubuk formula yaitu mencuci tangan dengan air dan sabun, kemudian dikeringkan. Demikian juga menjaga kebersihan perlengkapan dot dan botol. Cuci bersih dengan menggunakan sabun khusus, kemudian, sterilisasi peralatan tersebut.

Sunday, September 16, 2018

Saat Bumil Stres Lakukanlah Hal Ini Untuk Mengatasinya

Saat Bumil Stres Lakukanlah Hal Ini Untuk Mengatasinya
Saat Bumil Stres Lakukanlah Hal Ini Untuk Mengatasinya
Stres yang dirasakan saat hamil tergolong hal yang normal. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan hormon. Salah satu pilihan yang dapat dilakukan oleh ibu hamil (bumil) untuk mengatasinya adalah rutin melakukan meditasi.

Meditasi adalah latihan pemusatan perhatian pada pernapasan dan pemikiran. Meditasi dapat dilakukan kapan dan di mana saja, bahkan ketika makan. Selain menenangkan, aktivitas ini juga bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, dan menjaga tekanan darah.

Beragam Manfaat Meditasi Untuk Kehamilan
Ada berbagai manfaat meditasi yang dapat diperoleh oleh ibu hamil. Penelitan menunjukkan, meditasi dapat membantu ibu hamil mengelola emosi sekaligus mengurangi kecemasan dan depresi. Manfaat meditasi yang dilakukan melalui yoga juga diketahui dapat meredakan stres, sehingga ibu hamil dapat merasa lebih tenang dalam menjalani kehamilannya.

Selain itu, meditasi meditasi dapat membuat ibu hamil tidur lebih nyenyak sehingga tubuh menjadi lebih segar. Tidur yang cukup juga bermanfaat untuk mengurangi gejala morning sickness.

Stres atau depresi bukan hanya rentan terjadi saat hamil, tapi juga setelah melahirkan. Depresi setelah melahirkan atau yang biasa dikenal dengan istilah Manfaat meditasi, juga bisa dirasakan oleh Si Kecil dalam kandungan Bumil. Mengurangi stres pada ibu hamil, dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.


Cara Melakukan Meditasi untuk Bumil

Meditasi tergolong aman untuk menjaga stamina tubuh dan menghilangkan stres pada ibu hamil. Sebaiknya hindari beberapa jenis olahraga yang cukup berat, seperti basket, sepak bola, dan mendaki gunung.

Berikut beberapa cara meditasi yang aman dilakukan oleh ibu hamil:

Latihan pernapasan
Gerakan paling sederhana yang dapat Bumil lakukan adalah latihan pernapasan. Caranya adalah dengan duduk sambil bernapas melalui hidung dengan mulut tertutup. Pejamkan mata dan rasakan setiap hembusan napas yang dihirup. Tahan napas selama beberapa detik dan keluarkan secara perlahan melalui hidung.
Bumil bisa melakukan gerakan ini sambil duduk di matras ataupun tempat tidur dengan posisi yang senyaman mungkin. Lakukan gerakan ini beberapa kali sampai pikiran Bumil benar-benar tenang.

Relaksasi otot
Latihan relaksasi otot bertujuan untuk melemaskan otot yang kaku. Bumil dapat duduk di tempat tidur atau matras dengan posisi senyaman mungkin. Rasakan bagian tubuh yang tegang, lakukan peregangan pada bagian tersebut.

Misalnya, tangan Bumil merasa tegang, maka angkat kedua tangan ke depan. Kemudian lakukan gerakan peregangan tangan ke atas dan ke bawah secara perlahan. Setiap gerakan bisa Bumil lakukan selama 5 detik. Ulangi gerakan tersebut selama beberapa kali sampai bagian yang tegang benar-benar relaks.

Latihan visualisasi objek
Cara melakukan latihan visualisasi adalah membayangkan suatu hal yang membuat Bumil bahagia. Seperti berada di taman atau atau berjalan di pinggir pantai dengan udara yang sangat sejuk. Bayangkan hal-hal yang membahagiakan tersebut dengan detail, seperti aroma udara yang dihirup dan warna langit yang dilihat.
Bumil bisa melakukan hal ini sambil duduk bersila di tempat yang Bumil senangi, seperti taman ataupun ruang keluarga. Selama melakukan latihan ini, atur pernapasan.

Selain melakukan meditasi seperti contoh di atas, yoga untuk ibu hamil dapat menjadi pilihan. Yoga cocok dilakukan oleh ibu hamil pada trimester ketiga. Yoga dapat bermanfaat untuk membuat proses persalinan berjalan lebih lancar dan mudah.

Jangan biarkan stres mengganggu Bumil karena memiliki berbagai efek yang dapat mengganggu kesehatan. Meditasi dapat menjadi pilihan cara mengatasinya. Meski demikian, Bumil dapat meminta saran dokter terlebih dahulu sebelum melakukan meditasi ataupun cara lain yang dianggap efektif.

Saturday, September 15, 2018

Lakukanlah Cara Ini untuk Merawat Kuku Bayi Yang Baru Lahir

Lakukanlah Cara Ini untuk Merawat Kuku Bayi Yang Baru Lahir
Lakukanlah Cara Ini untuk Merawat Kuku Bayi Yang Baru Lahir
Kuku bayi yang baru lahir terlihat lembut dan lunak, namun jika dibiarkan terlalu panjang bisa menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Ini caranya agar tidak bingung lagi bagaimana cara merawat kuku bayi baru lahir.

Kuku bayi baru lahir walaupun terlihat lembut dan lunak namun cenderung tumbuh lebih cepat. Hal ini mungkin bisa membuat bunda khawatir akan melukai wajahnya saat si kecil menggaruk. Apalagi bayi belum bisa mengendalikan gerakan mereka sendiri.

Menggunting Kuku Bayi

Bunda perlu mengetahui pentingnya menjaga kuku bayi tetap bersih dan pendek. Karena kuku tangan bayi tumbuh dengan cepat, bunda disarankan menggunting kuku tangan paling tidak satu minggu sekali, sedangkan untuk kuku kaki yang pertumbuhannya lebih lambat, dapat digunting dua kali dalam sebulan.

Berikut tips untuk memotong kuku bayi:

Waktu terbaik untuk memotong kuku bayimu adalah ketika sedang tidur agar tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan. Waktu lain yang dapat bunda lakukan adalah setelah mandi, karena saat itu kuku bayi terasa lebih lembut.
pilih posisi yang aman untuk menggunting kuku bayi, sekaligus posisi yang dapat memudahkan bunda mencapai tangannya. Bunda dapat menempatkan Si Kecil pada pangkuan saat menggunting kukunya.
Jika bunda lebih memilih menggunting kuku bayi saat Si Kecil terbangun, usahakan meminta bantuan orang lain untuk memangku dan menahan bayimu, sementara bunda menggunting kukunya.
Tekan bagian ujung jari bayi ke arah bawah, untuk menghindari terkena gunting kuku. Pegang kuku bayi, selama menggunting kuku. Gunting hanya di bagian atas kuku, jangan terlalu dalam.
Gunakan gunting kuku khusus bayi yang mempunyai bantalan jari. Untuk menghaluskan tepi kuku yang kasar dapat menggunakan papan pengikir.
Pastikan bunda menggunting kuku bayimu dengan penerangan yang cukup untuk menghindari melukai kulit jari bayi.
Lakukan dengan Hati-hati dan Tenang

Menggunting kuku bayi harus dilakukan secara hati-hati, tetapi saat bunda tidak sengaja melukai kulit di sekitar kukunya,sebaiknya bunda, tetap tenang dan jangan panik.

Langkah yang harus bunda lakukan adalah membersihkan lukanya dengan membilasnya dibawah air bersih yang mengalir, kemudian dengan menggunakan tisu atau kasa kering yang bersih, berikan tekanan pada bagian jari yang terluka dengan perlahan dan lembut untuk menghentikan perdarahan. Tidak direkomendasikan menggunakan perban atau plester luka, kecuali atas anjuran dokter, karena plester mudah terlepas dalam keadaan basah, dan Si Kecil dapat memasukkan jarinya ke dalam mulut, sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkannya tersedak.

Selain itu, jangan panik jika tepi kuku bayi baru lahir copot atau patah. Hal itu disebabkan kuku bayi masih lunak. Bunda dapat membantu melepaskan ujungnya dengan lembut menggunakan jari. Lebih amannya bunda dapat menggunakan pengikir kuku untuk menghaluskan bagian tepi kuku yang tidak rata, dan selanjutnya jaga agar kuku bayi tidak terlampau panjang.

Sebaiknya hindari menggigiti kuku bayi untuk menjaganya tetap pendek. Hal ini dapat menyebabkan masuknya kuman dari mulut, terutama jika sampai timbul luka pada jari-jari mungilnya.

Khusus untuk bayi yang baru lahir, bunda dapat mengenakan sarung tangan bayi untuk menghindari si kecil menggaruk wajahnya sehingga tidak melukai dirinya sendiri. Selain itu, penggunaan sarung tangan juga dapat membantu bayi untuk tidak menggigit ujung kukunya, karena bakteri dari kuku yang masuk ke dalam mulut Si Kecil dapat menyebabkan infeksi.

Senantiasa jaga kebersihan tubuhnya secara utuh, guna menjaga kesehatan tubuh dan tumbuh kembang Si Kecil.

Nah cukup mudah bukan cara merawat kuku bayimu yang baru lahir dengan panduan di atas. Namun jika jari bayimu terluka dan darah yang keluar tidak berhenti setelah dibersikan, sebaiknya segera menghubungi dokter.

Friday, September 14, 2018

Bunda Perlu Tahu, Bagaimana Aturan Aman Menggunakan AC untuk Bayi

Bunda Perlu Tahu, Bagaimana Aturan Aman Menggunakan AC untuk Bayi
Bunda Perlu Tahu, Bagaimana Aturan Aman Menggunakan AC untuk Bayi
Tidak seperti orang dewasa pada umumnya, tubuh bayi belum bisa menyesuaikan dengan perubahan suhu. Keringat mereka pun masih sedikit, sehingga kemampuan tubuh untuk menyejukkan dirinya sendiri juga belum sempurna.

Saat cuaca panas, risiko kepanasan serta dehidrasi pada bayi dan balita bisa berlangsung dengan cepat. Tapi jangan sampai juga Si Kecil kedinginan akibat penggunaan AC yang berlebihan. Mari kita simak aturan penggunaan AC yang aman untuk buah hati kita yang masih bayi.

Suhu AC yang Disarankan

Secara umum, berada di ruangan ber-AC aman bagi bayi ketimbang membiarkan bayi baru lahir terpajan dalam lingkungan yang panas, pengap, maupun lembap. Namun, jangan sampai terlalu dingin. Suhu yang terlalu dingin dapat menurunkan temperatur tubuh bayi secara signifikan dan akan membuatnya sakit.

Untuk negara tropis, suhu ideal bagi anak yang biasanya dianjurkan berkisar antara 23-25ºC. Pada suhu ini, bunda dapat memakaikan piyama panjang berbahan katun untuk Si Kecil, dan memberikannya selimut tipis.

Lalu, Bunda dapat menyesuaikan suhu menjadi 18-20ºC untuk bayi baru lahir yang dibedong maupun memakai sleepsuit atau baju tidur yang rapat hingga ke telapak kaki.

Gunakanlah pengatur waktu otomatis (timer) pada AC untuk memantau durasi AC dalam mendinginkan ruangan. Bila AC bunda tidak memiliki timer, gunakan alarm sebagai pengingat. Sementara itu bila AC tidak memiliki layar penunjuk temperatur, taruh termometer di dalam ruangan untuk mengetahui suhunya.

Sesuaikanlah suhu secara berkala, misalnya jika ruangan terasa sudah terlalu dingin, naikkan suhu. Sebaliknya jika ruangan terasa panas, turunkan suhu. Hal ini bertujuan untuk menjaga suhu tetap nyaman dan aman untuk bayi, tidak menjadi terlalu dingin atau terlalu panas.

Manfaat Suhu Sejuk Untuk Bayi

Menjaga suhu ruang tetap sejuk, seperti dengan menggunakan AC saat cuaca panas, dapat membantu mencegah terjadinya Sindrom Kematian Mendadak Pada Bayi (Sudden Death Infant Syndrome – SIDS) serta membantu bayi tidur lebih nyaman.

Suhu yang sejuk juga dapat membantu mencegah kondisi medis terkait suhu panas yang rentan terjadi pada bayi, seperti dehidrasi, biang keringat pada bayi, lelah akibat panas, atau bahkan heatstroke atau serangan panas.

Selain memastikan si kecil berada dalam ruangan bersuhu sejuk, pastikan ia mendapat cukup minum untuk mencegah dehidrasi. Terutama pada saat cuaca panas, sering-seringlah menawarkan bayi untuk menyusu dari payudara langsung. Atau, bila bayi minum susu formula, berikan tambahan susu.

Dan jika bunda menggunakan AC, jangan lupa untuk servis dan bersihkan AC secara rutin, pastikan pula ruangan memiliki ventilasi yang baik, agar terdapat pertukaran udara yang baik.

Saran menggunakan penyejuk ruangan ini bukan berarti Si Kecil harus berada dalam ruangan ber-AC setiap saat ya. Berikan waktu Si Kecil untuk dapat tetap beraktivitas di luar ruangan dan juga menghirup udara segar, terutama pada pagi hari, namun hindari perubahan suhu yang mendadak. Bunda bisa mematikan AC terlebih dahulu, kemudian berikan waktu ia menyesuaikan diri terhadap suhu di luar ruangan.

Mari kita terapkan aturan penggunaan AC yang aman untuk bayi agar Si Kecil bisa tidur dengan nyaman, tetapi tidak jatuh sakit karena kedinginan.

Thursday, September 13, 2018

Perhatikan Saat Tanda-tanda Melahirkan Sudah Dekat Ini Muncul

Perhatikan Saat Tanda-tanda Melahirkan Sudah Dekat Ini Muncul
Perhatikan Saat Tanda-tanda Melahirkan Sudah Dekat Ini Muncul
Sebelum tiba waktu bersalin, Anda akan mengalami tanda-tanda melahirkan. Melahirkan merupakan proses yang panjang dan melelahkan. Namun tidak semua wanita mengalami tanda-tanda melahirkan yang sama.

Untuk mempersiapkan diri dan bersiaga dalam menghadapi persalinan, Anda bisa memerhatikan munculnya tanda-tanda melahirkan. Biasanya tanda-tanda melahirkan terjadi beberapa minggu atau beberapa hari sebelum persalinan.

Berbagai Tanda-tanda Melahirkan yang Harus Anda Perhatikan

Tanda-tanda melahirkan bisa terlihat atau terasa sangat jelas pada sebagian wanita, namun sebagian lagi tidak merasakan tanda apa pun. Dari segi fisik, mungkin Anda akan merasakan perubahan pada tubuh Anda seperti:

Merasakan kontraksi palsu


Kontraksi ini biasa disebut Braxton Hicks atau terjadi pengencangan perut yang datang dan pergi. Namun kontraksi palsu ini tidak sekuat kontraksi asli yang terjadi saat melahirkan. Biasanya kontraksi ini berlangsung 30 hingga 120 detik. Berbeda dengan kontraksi sungguhan, kontraksi Braxton Hicks dapat hilang ketika Anda berpindah posisi atau rileks. Kontraksi ini akan Anda rasakan sebelum mengalami kontraksi sungguhan. Perbedaan kontraksi asli dan palsu lainnya, yaitu kontraksi Braxton Hicks hanya terasa di daerah perut atau panggul, sementara kontraksi sungguhan biasanya terasa di bagian bawah punggung kemudian berpindah ke bagian depan perut.

Rasa sakit atau nyeri

Merasakan nyeri pada punggung, sakit perut atau kram layaknya sedang mengalami masa pramenstruasi.

Air ketuban pecah

Tanda melahirkan paling umum yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah pecahnya air ketuban. Kebanyakan wanita lebih dulu merasakan kontraksi sebelum air ketuban pecah, tapi ada juga yang mengawalinya dengan pecahnya ketuban. Ketika hal ini terjadi, biasanya persalinan akan menyusul dengan segera. Namun bahayanya, jika air ketuban sudah pecah, tapi Anda tidak juga mengalami kontraksi, maka bayi Anda akan lebih mudah terserang infeksi. Hal itu dikarenakan cairan yang selalu melindungi bayi dari kuman selama berada di kandungan ini telah habis. Jika hal ini terjadi, proses induksi mungkin akan dilakukan untuk menjaga keselamatan bayi Anda.

Sulit untuk tidur

Tidur malam yang terganggu dan perasaan gelisah bisa menjadi tanda-tanda melahirkan. Usahakan untuk tidur atau beristirahat di siang hari, karena Anda membutuhkan tenaga ketika persalinan berlangsung.

Frekuensi buang air kecil meningkat

Beberapa pekan atau jam sebelum persalinan, bayi akan turun ke rongga panggul Anda. Kondisi ini membuat rahim menekan kandung kemih, sehingga frekuensi buang air kecil menjadi makin meningkat dibandingkan biasanya.

Keluar lendir kental bercampur darah dari vagina

Selama hamil, serviks Anda ditutupi oleh lendir yang kental. Namun ketika mendekati persalinan, serviks Anda akan membesar dan membuat jalan agar lendir itu keluar melalui vagina. Warnanya bisa bening, merah muda, atau sedikit berdarah. Namun lendir bercampur darah tidak selalu menjadi tanda awal bahwa Anda akan melahirkan. Lendir ini bisa keluar juga ketika Anda berhubungan seks saat hamil.

Perubahan pada serviks

Jaringan pada serviks Anda akan melunak atau menjadi elastis. Jika Anda sudah pernah melahirkan, serviks Anda akan lebih mudah terbuka sekitar satu atau dua sentimeter sebelum persalinan dimulai. Namun jika Anda baru pertama kali mengalami masa-masa ini, pembukaan serviks sebesar satu sentimeter tidak bisa menjadi jaminan Anda akan segera melahirkan.
Jika Anda sudah mengalami pecah ketuban, bergegaslah ke rumah sakit. Biasanya persalinan akan terjadi sekitar 24 jam setelah ketuban pecah.

Sementara dari segi emosional, tanda-tanda melahirkan yang biasanya terjadi adalah Anda bisa merasa mudah marah atau moody, selayaknya masa-masa pramenstruasi.


Tips Mendekati Masa Persalinan

Jika Anda sudah memasuki bulan ke-9 kehamilan, sebaiknya Anda sudah menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan selama persalinan. Jadi, jika air ketuban telah pecah atau terjadi kontraksi, Anda bisa langsung membawa perlengkapan tersebut, lalu bergegas ke rumah sakit. Perlengkapan yang perlu Anda bawa meliputi:
  • Tas berisi pakaian dan peralatan mandi.
  • Perlengkapan bayi.
  • Makanan ringan.
  • Buku, majalah, atau barang apa pun yang bisa menemani Anda menunggu persalinan.
  • Bantal dan selimut yang nyaman.
  • Jika Anda ingin mengabadikan momen bahagia ini, Anda bisa juga menyiapkan kamera video dengan baterai yang telah terisi penuh beserta charger.

Simpan barang-barang tersebut di satu tempat yang mudah dijangkau saat kondisi darurat.

Selain perlengkapan, Anda juga sudah harus memastikan siapa yang akan mendampingi Anda selama persalinan. Anda bisa memilih suami, orang tua, saudara, atau teman. Pastikan mereka siap menemani Anda saat persalinan dimulai.

Mengetahui tanda-tanda melahirkan ini sangat penting bagi para calon ibu, terutama yang berencana melahirkan secara normal. Berbeda Jika Anda berencana melahirkan dengan bantuan operasi caesar, yang mana Anda bisa melahirkan bayi Anda kapan pun selama fisiknya sudah cukup untuk dilahirkan.

Dengan mengetahui tanda-tanda melahirkan, Anda juga akan menjadi lebih siap dalam menghadapi persalinan.

Wednesday, September 12, 2018

Jangan Salah Ya Bunda, Begini Cara Penyimpanan ASI yang Benar

Jangan Salah Ya Bunda, Begini Cara Penyimpanan ASI yang Benar
Jangan Salah Ya Bunda, Begini Cara Penyimpanan ASI yang Benar
Kini semakin banyak ibu menyusui yang beraktivitas di luar rumah. Memerah ASI pun menjadi pilihan agar asupan gizi anak tetap terpenuhi. Itu sebabnya penting untuk mengetahui bagaimana penyimpanan ASI perah yang benar.

Ada berbagai pilihan tempat untuk menyimpan ASI perah, seperti botol kaca, botol plastik dengan label bebas bahan berbahaya, ataupun kemasan plastik khusus untuk ASI. Sebaiknya hindari menyimpan ASI dalam kemasan botol atau plastik yang biasa digunakan untuk keperluan umum. Hal ini karena tempat penyimpanan ASI turut memengaruhi kualitas ASI yang disimpan.

Jaga Kebersihan Kemasan

Agar ASI yang disimpan terjaga kualitasnya, penting untuk terlebih dahulu melakukan sterilisasi botol bayi atau kemasan penampung ASI perah yang akan didinginkan atau dibekukan. Lakukan sterilisasi dengan merebus botol dan bagian pompa ASI yang bersentuhan dengan kulit, dalam air panas mendidih sekitar 5-10 menit.

Selain merebus secara manual, Bunda juga dapat menggunakan alat sterilisasi elektrik. Namun sebelumnya, jangan lupa mengecek keamanan dan ketahanan kemasan pada label. Hati-hati saat melakukan sterilisasi botol yang terbuat dari kaca, karena bahan ini lebih berisiko pecah.

Hal yang tak kalah penting demi mencegah perkembangan bakteri dari ASI perah yaitu menjaga kebersihan tangan saat memerah, ataupun saat menyimpan ASI dalam kemasan. Gunakan sabun untuk mencuci tangan sebelum memerah, serta cuci bersih botol kemasan ASI sebelum dilakukan sterilisasi.

Untuk ASI perah yang akan dibekukan, masukkan langsung botol ke dalam freezer segera setelah diperah. Sebaiknya Bunda tidak mengisi penuh botol atau plastik kemasan. Alasannya karena ASI perah cenderung mengembang dalam keadaan membeku.

Khusus untuk kemasan plastik penampung ASI perah, tempatkan lagi dalam kontainer atau kotak kemasan lain sebelum memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Hal ini karena kemasan plastik lebih berisiko mengalami kebocoran. Terakhir, jangan lupa memberikan label yang mencantumkan tanggal ASI diperah, pada botol atau plastik kemasan.

Waktu Penyimpanan

Penyimpanan ASI perah sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. ASI yang akan digunakan secepatnya, lebih baik dimasukkan ke dalam bagian lemari pendingin yang tidak akan membuat beku.

ASI perah dapat disimpan mulai dari beberapa jam hingga beberapa bulan, tergantung dari suhu penempatannya. Berikut prinsip penyimpanan ASI yang harus diketahui:

ASI perah tahan hingga 6 jam jika ditaruh pada suhu ruangan sekitar 25 derajat Celcius.
ASI perah tahan hingga 24 jam, saat disimpan dalam kotak pendingin yang ditambah kantung es (ice pack).

ASI perah tahan sampai 5 hari, ketika ditaruh pada kulkas bagian lemari pendingin dengan suhu minimal 4 derajat Celcius.
ASI perah tahan hingga 6 bulan apabila disimpan di dalam freezer dengan suhu -18 derajat Celcius atau lebih rendah lagi.

Hanya saja perlu diingat, proses pembekuan ASI perah kemungkinan menghilangkan beberapa zat yang penting untuk menghalau infeksi pada bayi. Semakin lama penyimpanan ASI perah, baik didinginkan maupun dibekukan, akan menghilangkan kandungan vitamin C pada ASI. Meski demikian, ASI perah yang sudah dibekukan itu, nilai gizinya masih jauh lebih baik dibandingkan susu formula.

Tips Mencairkan ASI Perah

ASI perah beku yang dicairkan kemungkinan akan mengalami perubahan pada warna, bau, dan konsistensinya dibandingkan ASI segar. Oleh karena itu, wajar jika Bunda mendapati ASI mengendap setelah disimpan di dalam kulkas. Kondisi ini normal dan cukup kocok botol penyimpanan untuk mencampurnya lagi.

Sebagian bayi ada yang menolak ASI perah beku. Jika demikian, Bunda bisa mencoba memperpendek masa simpan ASI atau menghangatkan ASI sebelum diberikan pada Si Kecil.

Untuk mencairkan ASI perah yang dibekukan, dapat menggunakan penghangat ASI elektrik yang bisa digunakan di rumah atau di mobil. Jika tidak tersedia, maka Anda dapat menempatkan botol penyimpan ASI perah ke dalam panci atau mangkuk berisi air hangat. Diamkan beberapa saat. Ingat, jangan menaruh panci atau baskom tersebut di atas kompor yang menyala.

ASI perah yang dibekukan, sebaiknya tidak langsung dikeluarkan dalam suhu ruang. Beberapa penelitian mengungkap perubahan suhu yang cepat dapat memengaruhi kandungan antibodi dalam ASI yang bermanfaat bagi bayi. ASI perah beku dari freezer dapat diletakkan terlebih dahulu di ruang pendingin pada kulkas, kemudian hangatkan sebagaimana cara di atas.

Jika ASI perah dibutuhkan segera, maka Anda dapat menempatkannya di bawah air mengalir dengan suhu biasa. Lalu lanjutkan mengalirinya dengan air hangat. Jika belum cukup hangat, tempatkan botol di dalam mangkuk berisi air hangat. Untuk memeriksa apakah suhu ASI sudah sesuai untuk Si Kecil, teteskan ke pergelangan tangan. Jika suhu sudah sesuai, ASI bisa langsung diberikan pada Si Kecil.

Meski tampaknya mudah, hindari menghangatkan atau mencairkan ASI perah menggunakan microwave. Alat ini dapat menciptakan bintik-bintik pada botol ASI perah yang kemungkinan berbahaya bagi Si Kecil. Bintik ini muncul karena suhu panas. Sekali lagi, perubahan susu yang terlalu cepat pada ASI perah bisa menghilangkan kandungan antibodi yang dibutuhkan oleh bayi.

ASI merupakan asupan nutrisi yang terbaik bagi bayi. Penyimpanan ASI perah yang benar dapat membantu ibu menyusui yang bekerja atau beraktivitas di luar rumah untuk tetap mencukupi kebutuhan bayi. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Demikian cara yang benar penyimpanan ASI perah, Semoga bermanfaat untuk Bunda sekalian.